Satu antara kata dan perbuatan
Posted by abuafra on January 31, 2008
Sewaktu menghadiri acara milad TDA II (baca postingannya di www.irwinjuliandi.com), saya bertemu dengan Guru Enterpreneur Indonesia, siapa lagi kalau bukan Valentino Dinsi. Beliau datang dengan membawa ke tiga orang anaknya yang tercinta, sedangkan istrinya sedang seminar di tempat lain.
Oh ya, sebelum lebih lanjut berbicara, saya akan ceritakan back ground mengapa saya menulis topic ini. Beberapa minggu yang lalu, saya telah mendapatkan buku Mengajari Anak berbisnis, karangan Valentino Dinsi dengan penerbit Let’s Go Indonesia. Alhamdulillah, saya mendapatkannya langsung dari penulis. Hal ini membuat saya langsung menghabiskan waktu untuk membacanya dan saya langsung sharing ke istri saya agar membaca juga sehingga kami bisa mengimplementasikan ilmu tersebut pada anak-anak kami.
Sudah banyak saya temui, para pembicara seminar kewirausahaan yang pada saat menguraikan sebuah topic kewirausahaan, tampak berapi-api seakan-akan kita bisa melihat aroma kesuksesan dari wajahnya. Akan tetapi, yang membuat saya agak “berpikir” adalah kejadian setelah saya tahu sang pembicara tersebut cuma handal di tataran teoretis semata, karena beliau bukan praktisi bahkan tidak punya satu bisnispun yang dia geluti. Sayapun berpositive thinking, mungkin memang bisnisnya dia adalah sebagai pembicara kewirausahaan. Saya bergumam dalam hati, “wah kalau teorinya ngelotok kaya begini, dan langsung dipraktekkan sebagaimana teorinya sepertinya hasilnya akan dahsyat nich”. Setidaknya beliau berwirausaha dengan menjadi pembicara handal di bidang kewirausahaan.
Kembali ke topik, saya dibuat terkagum-kagum pada acara milad TDA yang diadakan di Gedung menara BDN pas di hari sewaktu mantan presiden kita Soeharto di panggil kembali ke hadirat Ilahi. Ternyata penulis ini mengaplikasikan apa yang ditulisnya di kesehariannya. Sayapun mengambil kesimpulan bahwa mungkin tulisan beliau adalah hasil perjalanannya sehingga tulisannya lancar mengalir dan berbobot.
Beliau menyuruh kedua anak laki-lakinya agar tidak malu dan berani untuk menyebarkan brosur yang berisi buku “Mengajari anak berbisnis”. Saya langsung berdecak kagum kepada anak-anak yang telah terbina ini. Mereka dengan tingkah polos anak-anak dan ceria membagikan brosur tersebut kepada peserta milad TDA. Respon orang yang diberikan brosur beragam, ada yang biasa saja, ada yang tersenyum, ada yang menggelengkan kepala disertai senyum simpul, ada yang berdecak kagum. Setelah puas bermain “membagikan brosur”, mereka langsung duduk di stand tempat buku itu dijual. Hasilnya, lumayan… Ada beberapa buku yang telah terjual. Atas jasa membagikan brosur tersebut, sang ayah memberikan “bonus” sekian persen untuk anak tercinta.
Pelajaran yang dapat saya petik adalah, pengajaran tentang kecerdasan financial. Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu. Hal ini yang harus ditanamkan sejak kecil. Di dalam bukunya, ditulis bahwa memang ada hal-hal yang jangan diberi “bonus” agar anak tidak terdidik bahwa dia bekerja hanya untuk mendapatkan uang, seperti pekerjaan sehari-hari mereka. Dan ada hal-hal yang semestinya diberi “bonus” untuk memotivasi kewirausahaan mereka.