Indahnya keseimbangan hidup
Posted by abuafra on January 16, 2008
Indahnya keseimbangan hidup
Life balance, pinjam istilah singkatnya. Brian Tracy mengulas secara apik dalam bukunya. Tulisan ini sebenarnya bermula dari pindahnya saya ke rumah yang kami tinggali sekarang. Dan kepindahan ini saya rasakan sebagai akselerasi bagi keseimbangan hidup saya. Sejak masa remaja, saya selalu mengidamkan hidup di lingkungan yang kondusif bagi hidup dan kehidupan saya. Dan sejak berumah tangga keinginan itupun terwujud, Alhamdulillah.
Kami tinggal di lingkungan di mana tetangga-tetangga lain mempunyai visi yang sama. Merupakan berkah bagi kami, tinggal dekat sumber ilmu. Dia adalah penulis buku yang bukunya tersebar dimana-mana, ustadz yang ‘alim dan wara’. Lantas apa hubungannya tinggal di lingkungan yang kondusif dengan keseimbangan hidup?
Begini ceritanya. Saya adalah aktifis 8 to 5 alias karyawan yang masuk pukul 8 pagi dan pulang pukul 5 sore. Para aktifis 8 to 5 adalah aktifis yang sehari-hari disibukkan oleh kerja keras agar dapat survive di belantara dunia ini. Ada banyak karakter yang saya pelajari di kehidupan aktifis 8 to 5 ini. Ada yang workaholic mengejar karir sehingga betah dan memang harus bertahan di kantor hingga larut malam. Ada yang “cerdik” (dengan tanda kutip), tidak perlu bekerja keras, cukup sikut kiri dan kanan, melakukan aksi licik dan menjilat sana sini untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Dan macam-macam karakteristik orang-orang mengejar dunia yang sebenarnya bisa kita amati sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi kita.
Ah, saya lebih memilih kerja cerdas dan keras (smart dan little hard). Hidup adalah pilihan, saya memilih pulang jam 5 tepat. Apapun kata orang, dan saya berusaha menunaikan kewajiban saya agar bisa pulang tepat waktu. Sayang, sekarang masih banyak orang yang menilai performansi dan loyalitas karyawan dengan lamanya dia di kantor, jadi semakin lama dia lembur semakin bagus dan loyal. Tapi, saya tak peduli, saya harus berusaha pulang tepat waktu walaupun pernah dihari hari tertentu memang harus lembur karena ada permasalahan yang harus diselesaikan segera karena keterkaitan waktu yang terbatas.
Terus apa hubungannya pulang tepat waktu dengan life balance? Cerita belum selesai Mas, begini…. Kalau saya pulang tepat waktu, saya bisa berjamaah shalat Isya di Masjid. Disinilah letak lezatnya kehidupan, sebelum shalat Isya, kami para jamaah puas bertanya tentang masalah seputar hidup dan kehidupan, apapun… Kami seolah melepas dahaga kehausan akan ilmu, dan menyeruputnya dalam dalam dengan nikmat, yang diperoleh dari sang Ustadz lautan ilmu. Sungguh lezatnya kalau bisa menyeimbangkan kehidupan dunia yang kita kejar seharian dengan aktifitas pengingat akan adanya kehidupan di kampung akhirat nanti. Tiada yang bisa saya ucapkan selain Alhamdulillah dan rasa syukur kepada Allah yang telah “mengantarkan” aku untuk bertempat tinggal di lingkungan ini.
Rekan, marilah seimbangkan hidup kita. Utamakanlah akhirat, tapi jangan lupa kehidupan di dunia ini. Seperti desah doa kita setiap hari yang meminta kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.